Friday, August 19, 2011

Penggerek Bendera Pertama yang Terlupakan

Tanggal 16 Agustus 1945, Chairul Shaleh, seorang senior Pemuda Islam, memberitahukan para pemuda di Asrama Pemuda Islam (API) untuk bersiap dan berkumpul di rumah Bung Karno keesokan harinya. Seluruh pemuda di asrama itu, termasuk Ilyas Karim, pemuda berusia 18 tahun, tidak mengetahui maksud berkumpul di rumah Bung Karno.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 pagi, Ilas bergegas menuju rumah Bung Karno. Setibanya disana, tangan Ilyas tiba-tiba ditarik oleh Sudanco Latief Hendraningrat dan disuruh berdiam diri disamping tiang bendera. “Saat itulah saya diminta jadi penggerek bendera bersama Sudanco Singgih. Hanya karena saya datang duluan dibandingkan teman-teman, jadinya sayalah yang ditunjuk. Coba kalau telat, ceritanya pasti berbeda” tutur urang awak ini bercanda.


Ilyas Karim, pria kelahiran Padang Pariaman 31 Desember 1927, saat ini yang menjadi saksi hidup naskah Proklamasi Kemerdekaan RI yang dibacakan oleh Presiden Soekarno yang didampingi Wakil Presiden Mohammad Hatta dikediaman Presiden di jalan Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat. Ilyas masih ingat ketika dipercaya sebagai pengibar Bendera Merah Putih, hatinya pun bergejolak gembira.

“Bagaimana tidak senang? Saat itu detik-detik kemerdekaan Negara kita, dan saya disitu mengibarkan bendera Indonesia pertama kali dihadapan Pak Presiden, Bung Hatta, Bu Fatmawati” tutur Ilyas, Rabu (17/8) saat ditemui wartawan Singgalang dikediamannya dipinggir rel di jalan Rawajati Barat no. 7, Kalibata, Jakarta Selatan.

Menurut dia, ada satu momen dimana dirinya tidak akan lupa adalah ketika Ibu Fatmawati menghampirinya sambil membawa sebuah kotak. Kotak itu berisi bendera Merah Putih yang sudah dijahit sehari sebelumnya. “Bagus sekali kain itu, masih sangat baru. Ibu Fatmawati berpesan sama saya, ini kotak didalamnya ada bendera hati-hati jangan sobek. Saya jaga itu sampai pelan-pelan saya kerek naik ke puncak” katanya.

Upacara bersejarah itu, diakui Ilyas, menumbuhkan semangat nasionalisme untuk lepas dari penjajahan Jepang yang sangat besar. Setiap orang mulai dari tua hingga muda tanpa membedakan suku, larut dalam semangat kesatuan itu.

Begitu upacara usai, setiap orang bersorak gembira. Namun tidak ada perayaan berlebihan dalam peristiwa bersejarah itu. Setiap orang pulang ke rumah masing-masing lantaran masih dalam bulan puasa. “Sama seperti sekarang ini (bulan puasa) tapi rasanya berbeda. Dulu semangatnya ada” ujar Ilyas lirih.

Ilyas merasa prihatin dengan kondisi bangsa yang carut marut. Menurutnya, pemerintah tak lagi peduli akan rakyatnya. Padahal, kemerdekaan dulu dicapai untuk seluruh rakyat. “Yang sekarangada rakyat miskin, zaman dulu mana ada pengemis, sekarang kemerdekaan itu hanya untuk para pejabat. Paadahal dulu kami berjuang untuk rakyat” imbuhnya.

Nama Ilyas Karim memang tidak terlalu popular dikalangan generasi penerus. Ia pejuang bangsa yang kini seolah dilupakan pemerintah. Di usianya yang menginjak 84 tahun, ia sadar betul bahwa dia tak seperti dulu lagi, langkah begitu tegap menghentak bumi namun kini langkahnya telah lunglai. Kerut wajahnya tidak saja melambangkan ketuaan, tapi sekaligus mengisyaratkan penderitaan hidupnya. 



Ilyas hidup dipinggir rel kereta di jalan Rawajati Barat no.7 Kalibata, Jakarta Selatan bersama sang istri. Ia membangun sebuah rumah sederhana yang lantai duanya terbuat dari seng. Meski hidup dalam keterbatasan, Ilyas tak mau terpuruk meratapi nasib. Hingga saat ini ia masih aktif menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Pejuang Siliwangi yang sering mengadakan bakti social bagi anak yatim. “Hidup itu untuk mengabdi bukan untuk diam-diam saja” katanya.

Agaknya 17 Agustus 2011 bertepatan dengan 66 tahun usia kemerdekaan RI, Ilyas mendapat berkah. Ia mendapat kado kemerdekaan berupa satu unit apartemen dari pihak swasta. “Ngaak tahu akan diapain apartemennya, saya tetap tinggal di rumah pinggir rel” ujar ilyas, usai penyerahan secara simbolik oleh pihak yang menyerahkan.

Meski demikian, ia mengaku berterima kasih atas perhatian yang diberikan pihak swasta kepadanya. Pasalnya, pemerintah yang selama ini ia harapkan tak lagi memperhatikan pejuang tempo dulu. “Saya nggak pernah diundang lagi ke istana. Sama sekali tidak ada bantuan pemerintah, yang ada hanya masyarakat dan swasta. Tidak ada pemerintah” tukasnya.

Tidak tergerakkah hati pemerintah mendengar penuturan tulus dari seorang pejuang bangsa ini? Karena masih banyak para pejuang yang dengan nyawanya membela bangsa ini, kini hidup jauh dari kesejahteraan.

Singgalang, 19 Agustus 2011

No comments:

Post a Comment